Wednesday, January 11, 2017

Menjalani Hidup Tanpa Kantung Empedu


Selamat pagi, siang, sore, ataupun malam. kapanpun kalian membaca tulisan ini. Pertama-tama, saya ingin memohon maaf sebesar-besarnya kepada semua orang yang pernah saya rugikan, sehingga menganggap saya orang jahat yang tidak layak memiliki hidup bahagia. Mohon maaf karena merugikan dan telah memberi kesan buruk selama ini.


Lalu, saya juga ingin berterimakasih kepada semua orang yang tetap menganggap saya mampu berubah menjadi lebih baik, menjadi orang sukses yang berguna, bisa membanggakan orang-orang yang mencintai saya. Saya memanjatkan doa-doa baik untuk kalian semua, tidak terkecuali. Karena tanpa kalian, saya tidak bisa berjuang menjalani semua ini.



***


Bulan september kemarin, tepatnya sehari setelah Idul Adha, saya mengalami sakit perut yang luar biasa. Tepatnya di ulu hati yang menjalar hingga ke punggung saya. Saya pikir itu hanya sakit maag biasa, karena dua tahun belakangan saya juga sering merasakan sakit ulu hati seperti ini. Biasanya, saya meminum obat maag dan sakitnya langsung hilang beberapa saat kemudian.

Akan tetapi, perubahan saya rasakan ketika BAK (buang air kecil) dan BAB (buang air besar), karena curiga ada yang memburuk dengan keadaan sistem pencernaan, saya pun memberanikan diri untuk datang ke dokter spesialis penyakit dalam.

Di sebuah rumah sakit swasta, di kota Jogja tercinta, saya bertemu seorang dokter spesialis penyakit dalam. Di pemeriksaan awal ini, saya sempat menjalani USG dan hasilnya tidak ditemukan batu dalam kantung empedu. Karena itu, beliau mengatakan kepada saya, kalau saya hanya terkena maag dan diberikan obat beserta enzim untuk pencernaan.

Seminggu saya jalani dengan baik-baik saja, tidak mengalami sakit lagi, bahkan saya bisa makan pedas sesuka hati. Namun, beberapa hari kemudian saya merasakan sakit yang teramat hebat, lebih hebat dari biasanya. Tampak perubahan fisik terjadi pada mata dan kulit saya, semuanya mulai berwarna kuning.

Saya kembali ke rumah sakit, kali ini memilih dokter yang berbeda. Tepat tanggal 22 September, saya harus opname. Dokter ini mengatakan kalau saya terkena pembengkakan liver, atau biasa disebut hepatitis. Saya terpaksa dirawat selama 10 hari di rumah sakit.

Setelah 10 hari di rawat, saya dibolehkan pulang dan meminum obat jalan. Saya harus kontrol tiap 2 minggu sekali dan harus cek darah sebelum pemeriksaan. Hari-hari saya jalani dengan berat, bahkan sakit di ulu hati masih terasa secara periodik. Tepatnya, seminggu sekali saya merasakan kambuh yang teramat sangat. Bahkan kali ini lebih parah, karena sakit yang saya alami berlangsung selama kurang lebih 12 jam dan merambat ke sekitar tulang belikat kanan.


***


3 bulan setelah saya divonis hepatitis, dokter mulai mencurigai penyakit saya bukan dikarenakan virus hepatitis. Kecurigaan dokter didasari oleh berat badan yang turun 15 kilogram dan mata beserta tubuh saya masih terlihat kuning. Beliau meminta saya untuk menjalani pemeriksaan CT Scan, lalu membawa hasilnya 3 hari kemudian.

Hasil pemeriksaan CT Scan menunjukkan kalau empedu saya bersih dari batu, namun ada pelebaran di saluran empedu, belum diketahui penyebab pastinya. Akhirnya, dokter meminta saya untuk menjalani pemeriksaan yang lebih teliti lagi menggunakan MRI atau MRCP.

Seminggu kemudian, hasil MRCP keluar dan saya kembali bertemu dokter. Terlihat batu empedu mengendap di saluran empedu saya, besarnya kurang lebih 1,5cm. Pembengkakan pada liver saya ternyata bukan dikarenakan virus, tapi lebih disebabkan karena penyumbatan saluran empedu ini. Cairan empedu saya tidak mampu mengalir seperti semula dan membuat aliran balik ke dalam liver. Cairan itu juga masuk ke dalam darah dan membuat mata beserta kulit saya menjadi kuning. Dokter menyarankan saya untuk menjalani operasi , beliau memberi rujukan kepada dokter bedah digestif. Hari itu juga saya harus opname (lagi).

from google.com



Perasaan campur aduk saya rasakan, karena ini pengalaman pertama menjalani operasi. Dokter bedah mengunjungi saya pada hari berikutnya, dan memberitahukan bahwa operasi akan dijalani 3 hari kemudian (tepat tanggal 22 desember) dengan cara bedah konvensional.

Perlu kalian ketahui, operasi dapat dilakukan dengan 2 cara:
  1. Bedah konvensional: dengan cara membuka bagian tubuh dengan luka sayatan lebar. (untuk saya pribadi, perut ini disayat sepanjang 15cm)
  2. Bedah laparoskopi: luka sayatan kecil, hanya sekitar 1cm dan menggunakan selang robotik. (lebih baik teman cari sendiri di google, karena saya bukan ahli untuk menjelaskan hal-hal yang berbau kedokteran)


Tanggal 22 desember tiba, saya diberitahu perawat untuk memasang 2 macam selang. Selang untuk lambung yang dimasukan melalui hidung dan selang kateter untuk mengeluarkan cairan urin. Kedua selang itu sama-sama menyakitkan, terlebih lagi selang kateter yang dimasukkan melalui alat kelamin.  Sejujurnya, saya merasa stress sebelum operasi. Bukan karena operasinya, saya justru ketakutan di saat pemasangan selang kateter untuk urin.

Setelah selesai memasang semua selang dan mengenakan baju operasi, saya dibawa ke ruang persiapan operasi. Keluarga dan pacar saya menemani sebelum saya masuk ke ruang persiapan, saya pun meminta doa dari mereka.

Setelah 15 menit menunggu di ruang persiapan, saya pun dibawa ke ruang operasi oleh beberapa orang. Ternyata ruang operasi itu dingin sekali, mungkin memang diatur seperti itu agar tetap steril. Seorang dokter berpakaian hijau (khas operasi) menghampiri saya dan memberi beberapa suntikan di saat saya sedang berdoa dan berdzikir, tak lama kemudian saya kehilangan kesadaran di bawah pengaruh bius total.

Saya menjalani operasi selama 2,5 jam, setelah itu saya dibawa ke ruangan pasca operasi dan akhirnya dibawa kembali ke kamar. Orang tua dan pacar saya sudah menunggu, alhamdulillah operasi saya berjalan lancar. Bahkan, saya diberi oleh-oleh dari sang dokter bedah berupa batu empedu. Kata dokter bedah, kantung empedu saya terpaksa diangkat juga karena mengalami infeksi dan saya harus hidup tanpa kantung empedu mulai sekarang.


***


Sekarang, saya sudah melalui 2 minggu lebih sejak operasi dijalankan. Luka di kulit saya sudah mengering, saya sudah mandi seperti biasa. Namun, rasa nyeri masih terasa di perut bagian kanan, karena penyembuhan luka di bagian dalam perut memang lebih lama dari luka luarnya. Saya harus beristirahat selama 1-2 bulan dan tidak boleh angkat beban lebih dari 5 kg selama 6 -12 bulan.

Pasca operasi, perut saya masih sering kembung, itu merupakan hal wajar karena saya kehilangan satu organ dalam pencernaan. Saya pun harus menjaga pola makan, sehingga sampai saat saya menulis blog ini, saya memilih catering untuk menjaga kesehatan pencernaan dan metabolisme saya.

Dulu, saya tidak suka memakan buah apel, sekarang saya harus memakannya. Karena pada kenyataannya, buah apel mampu mencegah batu empedu. Seperti itulah manusia, dulu tidak mau, sekarang butuh. Dulu diremehkan, sekarang menyanjung mati-matian. Dalam berbagai hal, kita adalah sosok yang akan butuh saat sudah tersudut dalam keadaan hidup dan mati. Seperti saya sekarang.

Saya harus berterimakasih banyak pada keluarga yang selalu menemani saya dan menerima kepulangan saya, apapun keadaannya. Saya juga harus berterimakasih pada pacar yang setia menemani siang-malam di rumah sakit, bahkan tidak jijik melihat cairan urin saya yang keluar melalui kateter selama dirawat. Adakah orang-orang setia seperti mereka di hidupmu? Pertahankan, tidak ada yang lebih nyaman dari mereka yang mampu menerima keadaanmu dalam tiap kepulangan. Itulah rumah sejati yang kita butuhkan.

Tidak lupa juga, saya harus banyak berterimakasih pada teman-teman yang telah menjenguk, mendoakan, dan memberi saya semangat untuk sembuh. Bahkan ada teman yang menunggu saya pulih dan bersedia menampung saya untuk bekerja, tidak ada yang lebih indah dari mereka yang tetap percaya pada sosok pendosa ini.


***


So, buat teman-teman, atau siapapun yang mengalami kejadian seperti saya, jangan menyerah. Kita masih bisa menjalani hidup dengan wajar. Saya mencoba untuk dapat bekerja lagi (walaupun sampai saat ini saya masih termasuk dalam unemployed club karena memilih resign saat divonis sakit hepatitis dan disuruh beristirahat selama 3 bulan), saya bisa naik kendaraan sendiri keluar rumah, tapi memang fisik saya masih terasa lemah dan cepat merasa lelah.

Ya, banyak yang sudah saya lewatkan selama saya sakit, dari mulai pekerjaan yang harus saya tinggalkan, pernikahan saudara, pernikahan sahabat, jalan-jalan keluar kota, banyak projek terbengkalai seperti youtube dan buku, hingga rejeki yang ditawarkan. Rejeki mungkin tidak akan tertukar, namun kenyataannya, kita bisa kehilangan karena tidak mampu menjaga kesehatan. Jadi, marilah hidup sehat mulai sekarang, sebelum terlambat dan banyak kehilangan dalam sisa hidup kita. Toh, pada akhirnya, kita mampu menikmati kerja keras di saat benar-benar sehat.


Terimakasih sudah membaca cerita saya, semoga kita selalu diberi rejeki yang berlimpah, pekerjaan yang halal, kesehatan dan kebahagiaan. Aamiin.





Aditya Dion M., 11 Januari 2017

Thursday, November 10, 2016

Menikmati Secangkir Kopi

image from google.com



Tidak memiliki pasangan mungkin bukan masalah untuk beberapa orang, toh saya lihat, banyak orang yang mampu bersembunyi dalam topeng tawa. Mereka terbiasa menyembunyikan kesedihan, tanpa melibatkan orang-orang di sekitarnya. Mereka mampu menikmati kehidupannya dan berbagi dengan teman-teman.


Di sisi lain, saya paham kalau beberapa orang butuh perhatian dan kasih sayang – yang entah mengapa – mereka sangat ingin dapatkan dari seorang kekasih hati. Sehingga, mereka selalu merasa ada yang kurang saat tidak memiliki pasangan.


Di dalam kehidupan ini kita harus menyadari bahwa dalam tiap permintaan, selalu ada risiko yang menanti. Jika kau meminta kemarau, maka beberapa tumbuhan akan mati kekeringan. Saat kau memohon hujan, jangan takut akan lumpur dan banjir yang menerjang. Begitu juga saat kau meminta pasangan, maka kau harus bersiap untuk patah hati yang dirasakan.


Banyak yang mematikan rasa dan menutup rapat-rapat hatinya karena takut terjatuh, padahal membuka kesempatan baru adalah cara terbaik untuk melupakan.


Begitupun pada mereka yang memilih bertahan walau disakiti, dengan alasan enggan dan lelah untuk memulai.


Saya pikir, kita memang makhluk yang cukup rumit untuk dipahami. Namun yang pasti, saat kau tidak memiliki pasangan, itu bukan akhir untuk kehidupanmu. Begitu juga saat kau ditinggalkan.


Ada banyak cara untuk menikmati secangkir kopi. Kita dapat mencampurnya dengan krim, menambahkan gula, susu, dengan air hangat, maupun es batu. Ampasnya dapat kita gunakan untuk melukis rokok kretek atau bahkan untuk menghukum seseorang yang kalah dalam permainan kartu. Begitu juga dengan menikmati kehidupan, banyak hal yang dapat kita lakukan.


Kau harus mengerti bahwa ketiadaan seseorang di sisi dan kata perpisahan bukan akhir dari kehidupan.




Yogyakarta, 10 November 2016

Thursday, February 11, 2016

...dan Vice Versa

Selamat pagi, hari kamis.

Saya menyapa seperti orang yang kaku, toh memang begitu keadaannya. Saya kembali menjalani hidup seperti dulu. Bangun pagi—kerja—pulang—tidur, berulang seperti itu sampai akhirnya saya sempat menemukanmu, dulu.

Sayangnya, terselip kata sempat.

Saya hanya meratapi doa-doa yang tak dikabulkan-Nya, doa-doa agar kau adalah tepat. Saya tidak ingin kau hanya menjadi persinggahan, tapi menetap. Namun, saya hanya mendapat tamparan telak dan kuat.

***

Saya menatap layar komputer di ruang kerja dengan kebingungan, seolah daya pikir saya menghilang selama 2 hari penuh hujan. 2 hari tanpa senyuman. 2 hari tanpa aroma tubuhmu yang memabukan.

Saya tersadar, membencimu hanya menghadirkan pedih pada hati kita. Kita sering menghiraukan, bahwa memaafkan diri sendiri lebih penting dari sekadar meminta maaf atau memaafkan orang lain. Di sini saya berjuang memaafkan diri sendiri karena sempat mengutukmu di dalam doa & membunuhmu dalam perasaan.

***

Saya berjumpa dengan seorang bijak, ia berkata: "Perbuatan baikmu sekarang, akan berbalas dengan hal baik suatu saat nanti. Siapa yang menabur, ia yang menuai."

Saya meng-aamiin-kan kalimatnya, sekaligus menambahkan, "...dan vice versa" di belakangnya.