Tuesday, December 29, 2015

Suatu Hari Yang Biasa

[1]
Hujan rintik, di tengah suara musik.
Aku menatap diam tubuhmu, terbayang hal-hal baru yang kita lakukan dalam ruang itu.

Kau melangkah lantang dan aku yang terbujur kaku.
Ada gelitik dalam hati, kau kepayahan menutup dusta dan aku terkikik.

Bersimpuh dalam sesal, samudera pun berpindah pada pori-pori matamu.
Kita hentikan napas, cinta hilang dan hati memekik.

[2]
Suara decit kursi di antara pengunjung kafe bersautan, kulihat punggungmu dari kejauhan.

Aku lambaikan tangan, bukan untukmu, namun ia yang mampu memberi pelangi dalam tiap senyumnya setelah hujan mereda.

Kita adalah manusia biasa, yang berjalan melewati cerita biasa. Bertemu di hari yang biasa, mencintai dengan cukup. Seadanya.

Sapa dan peluk kembali pada suatu hari yang biasa. Melupakan cinta pernah hadir dengan luar biasa.