Friday, September 6, 2013

RELIEF

Cover Relief


"Aku dan kamu adalah beda yang saling cinta. Perbedaan yang menyiksa dan akan terus merenggangkan jarak antara kita.

Mengapa ada cinta yang sangat dalam kalau pada saat yang sama kita tidak mungkin untuk menyatu? Sedangkan, senyum bahagia adalah impian dari akhir cerita.

Bagaimana tentang cinta sejati? Cinta sejati yang abadi, seperti kisah-kisah yang terpahat di dinding-dinding candi."


Di akhir bulan September ini, saya akan mempersembahkan buku ke-2 saya. Buku ke-2 saya ini berjudul #Relief dan akan segera terbit. Pada novel kali ini, saya menulis dengan teman saya yang bernama Intan W. Puspita (@iwps_).

Di novel ini, saya dan Intan akan menceritakan bagaimana realita dari cinta dua insan manusia yang 'berbeda'. Bagaimana rasa cinta yang kuat berusaha untuk bahagia walaupun 'berbeda'.

Perbedaan bukan alasan untuk tidak mencintai seseorang. Namun, 'berbeda' mungkin akan selalu menjadi tembok penghalang dari bahagia.

Apa kalian pernah merasakan cinta yang 'berbeda'? Apa pada saat memperjuangkannya kalian berhasil? Apa cinta selalu bahagia dan berujung manis? Apa cinta itu benar-benar meninggalkan jejak di hati seseorang?

Saya tunggu jawabannya dalam pahatan cerita cinta yang abadi di hati kalian.





Salam hangat,


Dion.

Friday, August 2, 2013

Sahabat Sejatiku...

Sore itu langit berwarna lembayung. Layaknya mataku yang terkena iritasi, langit juga sepertinya lelah dengan segala debu, polusi, dan harapan-harapan manusia yang menguap di udara.

Aku memandang seisi kamar yang usang, kamar seorang pria yang masih bujang. Layaknya kapal pecah, begitu banyak barang berserakan di lantai dan meja. Botol-botol berwarna hijau masih ada di sudut kamar, hasil keriaanku dengan teman-teman semalam. Buku-buku tua yang kertasnya mulai kecokelatan juga tak luput dari pandangan, mereka adalah pajangan yang selalu kulihat di dalam kamar.

Bukan masalah bagaimana busuknya kamar, namun baru saja aku mengalami kejadian tidak mengenakkan. Baru saja seorang teman yang kupikir mampu menjaga segala rahasia melakukan penghianatan teramat dalam. Segala ceritaku padanya malah disebarkan di depan orang-orang. Sakit? Lebih dari itu. Aku krisis kepercayaan.

Lalu, aku berjalan ke pembaringan. Aku merebahkan tubuh dengan posisi terlungkup dan berteriak dalam-dalam. Berteriak dan menangis dengan penuh kesedihan. Tapi, berkat ia yang selalu menemaniku, suaraku tak terdengar. Bahkan tembok-tembok kamar tak mampu mengeja segala umpatan dan tangisanku. Ia memilih diam dan tak menceritakan kata-kata yang terlontar dari mulutku sore itu. 

Benar-benar sosok yang hebat, bukan?

Thursday, August 1, 2013

Cerita di Sudut Kamar...

"Sepertinya aku lelah, lelah memelukmu." aku melenguh perlahan, sambil menghempaskan asap rokok yang ada di dalam kerongkonganku. 

Di atas kasur berwarna putih itu aku duduk bersamanya. Ia yang menemaniku tiap malam. Suasana kamar itu lengang, sunyi, hanya ada suara kami berdua. Tembok-tembok berwarna putih hanya membisu tanpa ketukan lirih. Jendela masih sunyi menampakan pemandangan malam yang hitam kelam. Lampu kuning remang-remang menggantung indah di atas kami, meja berwarna cokelat hanya terpampang dengan buku-buku puisi yang lapuk termakan waktu. Tampaknya malam itu lebih panjang dari malam-malam lainnya. Bahkan, angin malam enggan berbisik kepada dedaunan di luar sana.

"Apa yang kau butuhkan? Sedangkan aku setia menerima kedatangan dan pelukanmu, selalu." ucapnya lirih.