![]() |
| taken from google.com |
"Nak,
sudahlah. Tidak perlu memaksakan diri. Kamu beli saja apa yang kamu mau, tidak
perlu memikirkan apa yang terjadi.", ucap ayahku yang sedang menyapu teras
rumah dengan kaos warna putih buluk kesayangannya. Aku duduk di atas kursi
bambu yang lapuk, tepat di belakangnya sambil menyaksikan ia yang sibuk dengan
debu-debu berterbangan itu. Rumah kami sederhana sekali, tak super pula. Hanya
memiliki satu kamar tamu, satu kamar mandi, satu kamar tidur, serta dapur yang
terlihat kumuh layaknya kandang sapi tetangga kami.
"Aku
nggak mau gini terus, Yah. Sudah cukup kita ditindas oleh saudara kita
sendiri.", kataku gusar. Benar saja, aku begitu emosinya hari itu. Bukan
karena mentari yang sangat terik di langit biru, bukan juga karena putus cinta,
ini semua karena krisis kepercayaan pada saudaraku sendri, ini semua karena
hilangnya ketulusan dari muka bumi.

