Thursday, September 10, 2015

Kembali Padanya



‘Rizal, kau di mana? Bisa jemput aku di bar?’

‘Kau mabuk, Van?’

‘Tidak, aku tidak mabuk, tapi sekarang aku butuh kau.’

‘Aku ke sana sekarang.’

*
taken from google.com

Baru saja Vania menelepon saya dengan suara yang ceria, seperti Vania yang saya kenal. Namun kali ini saya merasakan getir dan kesedihan mendalam terjadi padanya. Delapan tahun bukan waktu yang sebentar untuk kami saling mengenal. Kebiasaan dan perubahan kecilnya pun saya sangat hapal. 

Saya menekan gas mobil dengan kuat tanpa peduli dengan diri saya sendiri menuju bar dimana ia berada, karena setahu saya, Vania bukan wanita yang suka mabuk

*

Tuesday, September 8, 2015

Dari Gudeg Cakar Sampai Embun Pagi Ketep



Halo pembaca blog saya yang sangat setia. Maafkan atas kepayahan saya dalam mengurus blog ini, sudah setahun tidak ada tulisan baru. Namun, saya sangat berterimakasih karena kalian masih setia menunggu dan menyemangati saya untuk tetap menulis.

Bagi penulis, pembaca adalah segala-galanya, demikianlah kalian untuk saya. Sekali lagi saya ucapkan maaf sebesar-besarnya atas penantian panjang kalian dan terima kasih banyak atas kesabarannya, bahkan kesetiaan kalian tidak ternilai untuk saya.

Baiklah, kali ini saya akan menulis tentang jejak perjalanan saya yang terjadi sekitar dua minggu yang lalu, tepat di penghujung bulan agustus. Saya menamakan perjalanan saya ini dengan Trip Impulsif dan kalian akan memahaminya setelah membaca keseluruhan cerita ini.

Impulsif, satu kata yang sering kalian dengar tentunya. Bagi kalian yang tidak pernah mendengar kata impulsif, akan saya jelaskan dengan singkat. Impulsif adalah suatu dorongan yang didasari oleh keinginan atau untuk pemuasa secara sadar maupun tidak sadar. Sedangkan bertindak impulsif berarti suatu tindakan yang didasari oleh adanya dorongan untuk mengekspresikan keinginan.

Bertindak impulsif juga bisa berarti melakukan sesuatu tanpa pemikiran panjang, spontanitas tentunya. Hal-hal seperti ini bisa menghadirkan kesenangan, namun juga bisa berakibat negative dan penyesalan. Semua tergantung apa yang dialami setelah mengambil tindakan.

*

‘Kalian ini mau kemana?’ ucap seorang polisi pada teman saya yang bernama Ichan.

‘Ke ATM, pak,’ Ichan menjawab dengan senyum kecut.

‘Ya Allah,’ petugas polisi itu menepuk dahinya, setengah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

Kalimat yang diucapkan polisi dan teman saya, Ichan, mengembalikan memori saya pada perjalanan kami di malam hari sebelumnya.

Thursday, December 4, 2014

Taman Kota

Saya berjalan-jalan sambil menikmati es krim di tangan bersama kekasih saya, kekasih baru saya. Baru dua bulan ini kami berhubungan, tidak butuh waktu lama kami mengenal, namun kami mampu menyatukan masing-masing hati. Berpacaran, istilah yang mungkin lebih dipahami.

Kami berjalan mengelilingi taman, taman kota yang didominasi oleh anak kecil bersama orang tuanya. Entah hanya ibu, ayah, atau malah keduanya yang menemani. Anak-anak itu berlari, menangis, tertawa, bahagia, atau bahkan hanya menyendiri tanpa suara, diam.

Saya dan kekasih saya melihat sebuah bangku kayu berwarna cokelat di salah satu sudut taman. Kebetulan, kami berdua cukup lelah setelah seharian berjalan-jalan, dari pagi hingga hampir senja.

Saya dan kekasih saya melangkah menuju bangku itu, lalu kami duduk berdampingan sambil menikmati es krim di tangan kami. Kami masih terdiam, suara anak kecil dan gemerisik daun lebih berisik dari kami tentu.

'Sesungguhnya, aku bodoh perkara hati dan cinta,' kekasih saya memecahkan keheningan di antara kami. Ia berkata sambil menatap beberapa anak kecil yang sedang asik bermain di kolam pasir.
Saya menatapnya, mengerenyitkan dahi, 'Maksud kamu?'

'Bagaimana bisa kita yang baru berkenalan, tiba-tiba memiliki hubungan? Ada juga yang lama kenal, namun akhirnya tak bisa memiliki hubungan sama sekali. Atau bahkan, lama berhubungan, tidak sampai ke pelaminan. Ada juga yang....' Saya menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia menatap saya heran, kemudian, saya menunjuk ke sekeliling taman.

'Kamu tidak paham tentang cinta?' tanya saya. Ia hanya menganggukkan kepalanya.

'Kita buat mudah, kamu lihat anak-anak yang bermain di taman?' tanya saya lagi dan tentu hanya anggukan kepala yang kekasih saya lakukan. Saya melihat jam tangan di tangan kiri saya.

'Lima menit lagi matahari terbenam,' kata saya. 'Tunggulah sebentar lagi,' lanjut saya.

'Ada apa?' Ia membelalakan mata.

'Sudah, nikmati saja es krimmu, lima menit lagi akan ada jawaban dari semua pertanyaanmu tadi,' saya kembali menikmati es krim di tangan saya.

Kami duduk menunggu matahari terbenam, selama lima menit kami hanya duduk sambil menikmati es krim di tangan.

'Nak, sudah waktunya pulang,' seorang ibu berteriak. Tidak hanya ibu itu yang mengajak anaknya pulang, orang tua lain pun mengajak anaknya pulang. Kurang dari tiga menit, taman sudah kosong, hanya ada beberapa orang dewasa termasuk saya dan kekasih saya.

'Lalu, apa jawabannya sudah kamu dapatkan?' tanya saya pada kekasih saya.

'Aku tidak paham, taman justru semakin sepi,' ia menggelengkan kepalanya.

Saya tersenyum dan berkata: 'Menurutku, cinta itu polos seperti anak kecil yang ada di taman ini tadi. Mungkin, ia akan terlihat bermain-main, kadang luka, kadang bahagia, kadang menangis, kadang tertawa dan lain sebagainya. Yang pasti, cinta tahu kemana harus pulang. Seperti anak-anak itu, mereka pulang ke orang tuanya.'

Kekasih saya mengembuskan napas perlahan, 'Kalau begitu, semoga kamu benar-benar tempatku pulang dan vice versa,' katanya. Dalam hati, saya mengamini beribu kali.

-Dion-