Tuesday, February 12, 2013

Mata Cinta

Terdiam ku memandang semburat senja
Memandang indahnya mentari yang tenggelam
Terlintas sepasang mata
Sepasang mata yang penuh indahnya cinta

Teringat ku pada sebuah ATM di sudut kota
Ku berjumpa dengan engkau yang patah arang karena cinta
Kita saling berpandangan mata
Hatiku bergetar dengan nyata

Terlintas keinginanku memilikimu awalnya
Lama kelamaan perasaanku terikat cinta dan bukan hanya sebuah obsesi saja

Kau datang pada saat yang tepat
Kau datang dengan sepasang mata cinta

Thursday, January 17, 2013

Leo & Bunga Melati


Sembari kuketik surat ini, masih terbayang wajahmu yang meneduhkan hati. Aku masih sama seperti hari-hari lainnya, menggunakan jemariku untuk menuliskan sebuah imaji.

Aku tahu diriku bukan siapa-siapa. Kadang aku merasa kecil di hadapanmu, bukan, bukan dunia nyata, sekedar pertemuan kita di dunia maya.

Berawal dari follow back-mu di twitter yang ku tunggu-tunggu, berlanjut pada DM kita yang spontanitas terjadi. Mungkin bukan terjadi begitu saja, hanya sebuah "ketidak sengajaan" yang aku buat-buat saja.

Kamu adalah sesosok wanita cantik berbintang leo. Selama ini aku sering melihat ramalan zodiak. Kupikir kita ini jodoh, libra dan leo pasangan yang sempurna, katanya.

Tapi, apa yang bisa aku lakukan untuk menyempurnakan kamu? Apa yang kamu butuhkan dari sesosok aku? Kamu sendiri sudah luar biasa tanpa perlu menyianyiakan waktu tentang cinta. Pesimis? mungkin saja.

Lini masa bernama twitter memberi julukan untukmu, julukan yang membuat lelaki lain getir mendekatimu. Apa lagi kalau bukan "ahlinya pemberi harapan palsu". Entah karena terbiasa mendengar julukan itu, aku justru merasa biasa saja. Tak mempengaruhi kekagumanku dan tak membuatku takut untuk kenal kamu.

Sifatmu yang mandiri, kuat, tak kenal lelah, namun tetap memancarkan aura keindahan dan keanggunan wanita. Ya, tepat sekali, kamu mirip bunga melati. Sesosok yang tegar, dewasa & mewangi untuk orang-orang disekitar.

Apa salah bila surat ini kukirim atas kekagumanku padamu? Mungkin saja buatmu salah, mungkin juga kamu abaikan. Bahkan, mungkin saja tak akan pernah terbaca dan mempengaruhi hatimu. Tapi, buatku sendiri surat ini menunjukkan bagaimana beraninya aku dengan ribuan reaksi serta resiko yang akan terjadi suatu saat nanti.

Bagiku, sosokmu sangat kukagumi, lebih dari itu aku sangat ingin mengenalmu lebih jauh lagi. Mungkinkah suatu hari nanti kita bisa bertemu untuk mengenal lebih dalam? Iya, hanya berdua saja di sebuah meja makan malam dengan cahaya lilin remang-remang.
See you next time.

Teruntukmu, Leonimelati.

Wednesday, January 16, 2013

Awalnya Aku Benci

Aku benci kamu, selalu saja ada yang menderita disebabkan kekuatanmu.

Aku benci kamu, selalu saja meneteskan air mata bagi orang yang tak mampu meredam amukanmu.

Kekuatan, amukanmu telah melukai banyak orang. Kenapa kamu ada?

Namun, suatu ketika aku berjalan di lahan kering penuh bebatuan. Kering kerontang dan gersang. Ranting-ranting berjatuhan tanpa ada dedaunan.

Orang-orang berkeluh kesah, melihat hamparan tanah tiada kehidupan. Padi-padi tertunduk lesu kecoklatan, layu tanpa kekuatan.

Mereka menangis, menanti sebuah keajaiban. Keajaiban darimu yang sangat ingin kumusnahkan.

Di waktu lainnya aku disakiti orang terkasih. Mataku pedih, ingin rasanya menangis meresapi rasa patah hati yang kurasakan. Gengsi ini melawan, tak ingin di hadapan orang itu aku terlihat lemah.

Namun, emosiku terlalu berkuasa, air mata tak dapat kutahan lebih lama lagi.

Tunggu,
Saat aku hampir meledakkan tangisan, tiba-tiba kau datang. Melindungiku dengan kekuatanmu yang luar biasa, memelukku dari rasa pedih yang tak tertahankan.

Kau datang untuk melindungi ego dan gengsiku yang tak ingin terluka. Kau datang menemani tiap bulir air mata yang jatuh ke bumi.

Karenamu, tangisanku terlihat samar. Karenamu aku tak kesepian. Karenamu air mata ini ikut larut dan terhapuskan.

Awalnya aku membencimu, lama-lama aku mencintai dan mulai menikmati hadirmu. Aku menulis surat ini sesambil meneguk cokelat hangat dan menghisap sebatang rokok di teras rumahku.

Seharian ini aku terus memandangimu, hujanku sayang.